Assalamualaikum people!
Kerana saya ditaklifkan untuk bercerita tentang sahabiah, maka saya memilih berkongsi kisah indah ini disini. Moga-moga jadi teladan buat kita yang masih hidup.
![]() |
| gambar sekadar hiasan |
Siapa
yang tidak kenal Ummu Salamah? Janda terhormat bangsa Arab itu masuk ke
rumah tangga Rasulullah, di awal malam sebagai pengantin dan di akhir
malam sudah menggiling gandum.
Dia adalah wanita yang suci, berhijab, dan terhormat. Terkenal
cerdas, pandai, memiliki pandangan tajam, dan pemahaman yang mendalam.
Namanya Hindun binti Abu Umayyah bin Mughirah. Berasal dari keluarga
yang mulia dan dari Bani Makhzum. Ayahnya adalah seorang
tokoh Quraisy yang dikenal sangat dermawan dan pemurah. Hindun adalah
sepupu pedang Allah, Khalid bin Walid. Sekaligus sepupu Abu Jahal bin
Hisyam. Dia termasuk wanita yang pertama kali hijrah.
Di
antara kisah yang memberikan pengorbanan dan kesabaran kaum muslimin
ketika berhijrah adalah kisah hijrah Abu Salamah radhiallahu 'anhu dan
Ummu Salamah radhiallahu 'anha
, dimana Abu Salamah dihalangi berhijrah dengan ditahan anak dan
istrinya. Mereka menahan anak dan istrinya untuk mencegah hijrah beliau
ke kota Madinah.
Namun, hal itu sama sekali tidak menghalanginya untuk
berhijrah menyelamatkan agamanya yang lebih berharga dari segala
sesuatu.
Ummul-Mu'minin
Ummu Salamah radhiallahu 'anha sendiri yang mengisahkan hal ini,
'Ketika Abu Salamah berniat hijrah ke Madinah, ia radhiallahu ‘anha
mempersiapkan untanya untukku. Dia membawaku dan anakku, Salamah bin
Abi Salamah di atas unta itu. Kemudian membawaku keluar dengan menuntun
untanya.
Ketika keluarga istri beliau orang-orang Bani al-Mughirah
bin 'Abdillah bin Amr bin Makhzum melihatnya, serta merta mereka
menghadangnya seraya berseru, 'Masalah dirimu, itu urusanmu, tetapi
bagaimana dengan wanita kami ini? Dengan alasan apa kami membiarkan
engkau membawanya (keluar dari negeri kami)?'
Ummu Salamah radhiallahu 'anha mengisahkan, 'Lalu mereka merebut tali kekang unta dari tangan Abu Salamah radhiallahu 'anhu
dan merebutku darinya. Seketika itu juga, Bani 'Abdil-Asad, keluarga
dekat Abu Salamah marah. Mereka berkata, 'Demi Allah, kami tidak akan
membiarkan cucu kami ini bersama Ummu Salamah,
karena kalian telah merebut Ummu Salamah dari tangan keluarga kami ini'.
Akhirnya mereka pun memperebutkan anakku
Salamah. Sampai akhirnya, Bani al-Mughirah menyerah. Bani 'Abdil-Asad
pergi membawa anakku. Sedangkan aku ditahan oleh Bani al-Mughirah.
Akhirnya, Abu Salamah pun berangkat ke Madinah seorang diri.'
Ummu Salamah berkata, 'Aku terpisah dengan suami dan anakku.'
Sejak itulah Ummu Salamah sangat merasa sedih. Setelah terpisah dari
sang anak dan sang suami yang sudah berangkat hijrah, Ummu Salamah pergi
pagi dan duduk di al-Abthah. Disana ia menumpahkan
kesedihannya, menangis sampai petang hari. Ini dilakukan setiap hari.
Hingga setelah satu tahun berlalu, ada salah seorang anak pamannya yang
merasa hiba kepadanya, lalu ia pun berkata kepada Bani al-Mughirah, 'Tidakkah kalian melepaskan wanita malang ini? Kalian telah
memisahkannya dengan anak dan suaminya.'
Mendengar penuturan ini, lalu Bani al-Mughirah mengatakan kepada Ummu Salamah, 'Jika engkau mau, susullah suamimu?'
Ummu Salamah radhiallahu 'anha mengisahkan, 'Dan saat itu,
Bani al-Asad mengembalikan anakku. Aku kemudian mempersiapkan unta. Aku
berangkat menuju Madinah seorang diri. Tidak ada seorangpun yang menemaniku kecuali anakku.'
Ketika
sampai di daerah at-Tan’im, Ummu Salamah berjumpa dengan 'Utsman bin
Thalhah bin Abu Thalhah dari bani Abdudaar. Ia berkata
kepada Ummu Salamah, 'Hendak pergi kemana wahai putri Abu Umayyah?' Lalu
Ummu Salamah menjawab, 'Aku ingin menyusul suamiku di Madinah.' Iapun
balik bertanya, 'Apakah tidak ada seorangpun yang mengantarmu?' Maka
beliau menjawab, 'Demi Allah tidak ada kecuali Allah dan anakku ini.'
Akhirnya ia bersedia mengantarkan Ummu Salamah sampai di Madinah.
Maka berangkatlah 'Utsman bin Thalhah dengan memegang tali kendali unta
menemani Ummu Salamah ke Madinah . Ummu Salamah radhiallahu 'anha
menyatakan, 'Demi Allah Tidak pernah aku berjalan bersama seorang
lelaki Arab sama sekali yang aku lihat lebih memuliakan aku darinya.
Waktu itu bila sampai disatu tempat untuk istirahat, maka ia menjauh
dariku hingga aku turun dari untaku.
Kemudian barulah ia menyingkirkan untaku dan mengikatnya di pohon, kemudian ia menjauh ke arah satu pohon dan tidur dibawahnya. Apabila telah sampai waktu keberangkatan maka ia bangkit menuju untaku dan menuntunya kepadaku dan ia menjauh sambil bekrata: Naiklah! Apabila kau telah naik dan sudah berada diatas unta, maka ia datang mengambil tali kendalinya dan menuntunnya hingga turun istirahat disatu tempat. Ia melakukan hal demikian terus menerus hingga sampai kota Madinah.
Kemudian barulah ia menyingkirkan untaku dan mengikatnya di pohon, kemudian ia menjauh ke arah satu pohon dan tidur dibawahnya. Apabila telah sampai waktu keberangkatan maka ia bangkit menuju untaku dan menuntunya kepadaku dan ia menjauh sambil bekrata: Naiklah! Apabila kau telah naik dan sudah berada diatas unta, maka ia datang mengambil tali kendalinya dan menuntunnya hingga turun istirahat disatu tempat. Ia melakukan hal demikian terus menerus hingga sampai kota Madinah.
Saat 'Utsman melihat perkampungan Bani 'Amr bin 'Aud di Quba', Dia berkata, 'Suamimu berada di kampung ini. Masuklah
dengan barakah dari Allah!' Kemudian 'Utsman bin Thalhah pun kembali ke
Makkah. Akhirnya Ummu Salamah radhiallahu 'anha bisa berkumpul lagi dengan Abu Salamah. Pernikahannya dikarunia putra dan putri:
Zainab, Salamah, Umar, dan Durrah.
Tak lama kemudian, anaknya Salamah sakit lalu meninggal dunia. Waktu itu Abu Salamah tiada di rumah. Sebaik sahaja Abu Salamah sampai ke rumah, Ummu Salamah berkata kepada suaminya, 'Jika seseorang menitipkan barang kepada kita dan kemudian memintanya kembali, apakah yang harus kita lakukan?' Jawab suaminya, 'Kita harus segera memulangkannya'.
'Allah telah menitipkan kita anak kita dan Dia berkehendak kembali kepadanya, Salamah telah meninggal dunia'. Kata Ummu Salamah kepada suaminya. Besar kesabaran Ummu Salamah menghadapi dugaan ini.
Tak lama kemudian, anaknya Salamah sakit lalu meninggal dunia. Waktu itu Abu Salamah tiada di rumah. Sebaik sahaja Abu Salamah sampai ke rumah, Ummu Salamah berkata kepada suaminya, 'Jika seseorang menitipkan barang kepada kita dan kemudian memintanya kembali, apakah yang harus kita lakukan?' Jawab suaminya, 'Kita harus segera memulangkannya'.
'Allah telah menitipkan kita anak kita dan Dia berkehendak kembali kepadanya, Salamah telah meninggal dunia'. Kata Ummu Salamah kepada suaminya. Besar kesabaran Ummu Salamah menghadapi dugaan ini.
Dalam Perang Badar, Abu Salamah ra. menjadi salah satu pahlawan.
Setahun kemudian, terjadi Perang Uhud dan Abu Salamah terkena anak panah
dan mengalami luka yang serius. Namun selang beberapa waktu, pada awal
Muharram tahun 4 Hijriah, Rasulullah menunjuk Abu Salamah untuk
memimpin pasukan Sarriyah melawan kabilah Arab yang mencuba
menyerang kaum muslimin. Abu Salamah dan pasukannya berhasil membawa
kemenangan. Tapi luka saat Perang Uhud melarat sehingga tak lama setelah
itu ia meninggal dunia.
Sebelum meninggal, Abu Salamah berkata pada Ummu Salamah, Jika ia
meninggal lebih dulu, maka istrinya diminta menikahlah lagi. Abu Salamah
pun berdo’a pada Allah, jika ia mati maka berilah Ummu Salamah seorang
suami yang lebih baik darinya, yang tidak akan membuatnya sedih dan
tidak akan menyakitinya.
Ketika ia meninggal dunia, Ummu Salamah
berkata, “Siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah?” Kecintaanya kepada Abu Salamah tersangat mendalam hingga tidak melihat mana-mana lelaki yang lebih baik daripada suaminya. Sebaik suaminya meninggal dunia dia sering membaca doa yang diajari Rasulullah kepadanya:
'Innaa Lillaahi Wainnaa ilaihi Raji'uun, Allaahumm'jurnii Fii Musiibatii Waahlifliii Khairan Minha'
Ertinya: Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nya kita akan kembali. Ya Allah, berilah aku pahala daklam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik daripadanya.
Tak lama
kemudian, setelah selesai ‘iddahnya, Rasulullah datang ke
rumahnya dan menyampaikan niat untuk meminang Ummu Salamah.
Rasulullah membina rumah tangga dengan Ummu Salamah pada
tahun ke-4 Hijriyah. Ummu Salamah berkata, 'Aku berdoa sebagaimana yang diajar Rasulullah, lalu Allah memberi ganti untukku dengan lelaki yang lebih baik iaitu Rasulullah.
Sekian.

No comments:
Post a Comment